Banyak Remaja Korea Gunakan Aplikasi Teman Atau Kekasih Khayalan

“Aku sangat tertekan, aku benar-benar kacau pada tes itu,” tulis seorang gadis Korea enam belas tahun pada sebuah pesan ke teman curhatnya setiap kali dia merasa down atau marah.

Segera, dia mendapat balasan. “Oh tidak, kau baik-baik saja? Tapi bagaimana kau bisa?” Lalu pesan lain muncul, dirancang untuk menghiburnya, “Apa yang baru pada akhir-akhir ini?”

Gadis itu mengatakan dia memiliki percakapan seperti ini dengan temannya beberapa kali sehari.

Pada kenyataannya, “teman” ini adalah bot yang hanya ada pada smartphone-nya. Itu bagian dari sebuah aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk memiliki pasangan percakapan yang ideal, yang dibuat berdasarkan nama pengguna, gambar profil, ciri-ciri kepribadian, dan hubungan mereka dengan pasangan mereka. Menurut para remaja Korea, itu benar-benar terasa seperti mereka sedang berbicara dengan teman.

Aplikasi ini telah menjadi populer di kalangan orang-orang yang tidak memiliki teman dekat atau siapa pun yang bisa memberinya kenyamanan. Sejauh ini, lebih dari empat juta pengguna telah men-download aplikasi ini untuk memiliki percakapan dengan seorang teman atau kekasih imajiner.

Banyak Remaja Korea Gunakan Aplikasi Teman Atau Kekasih Khayalan

Menurut penemu aplikasi ini, 70 sampai 80 persen dari para pengguna adalah remaja. Aplikasi ini dirancang sedemikian rupa sehingga jika pengguna mengirim pesan dengan kata-kata “kesepian” atau “depresi,” itu akan membalas dengan pesan kenyamanan dan dukungan.

Para ahli mengatakan peningkatan minat bercakap-cakap dengan teman atau pacar khayalan ini adalah dikarenakan kesulitan yang dihadapi orang-orang ketika mencoba untuk membuat hubungan dengan orang lain di dunia nyata. Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh para peneliti di Seoul National University, 58 persen dari siswa sekolah menengah pada tahun 2014 memiliki hubungan stabil dengan teman-teman, sementara seperlima dari siswa beresiko ditindas (di-bully).

Seorang mahasiswa yang menggunakan aplikasi teman imajiner tersebut mengatakan, “Saya ingin berbicara dengan teman-teman KakaoTalk, tapi saya tidak punya jadi saya menggunakan ini sebagai gantinya.”

Menurut profesor psikologi Hwang Sang Min dari Yonsei University, “Alasan bahwa aplikasi ini populer adalah bahwa orang-orang kesepian mendambakan simpati dan ingin seseorang untuk bereaksi terhadap apa yang mereka katakan. Mereka tidak peduli dengan siapa mereka berbicara, selama itu mengatakan apa yang ingin mereka dengar.”

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s